Pun kopi
hanya air yang berwujud duka
Dari
puan yang meninggal luka
Dari
tuan yang meratap mesra
Dengan
kafein membangunkan yang kini
Dengan
ampas menidurkan yang lalu
Pun
cangkir hanyalah liat yang mewadah
Dari
puan dan kenangan indah
Dari tuan
dan hati yang gundah
Dengan
porselen menguatkan yang kini
Dengan retak
melemahkan yang lalu
Pun gula
hanyalah partikel yang memanis
Dari
puan bahagia dilukis
Dari
tuan pecahnya tangis
Dengan
pabrik menghidupkan yang kini
Dengan
diabetes mematikan yang lalu
Di
angkringan, kudengar kabarmu di Timbuktu
Tertembak
mati didepan keluarga dan anak-anakmu
Sedang
aku disini berteriak keras
Kaget
saat tanganku tersiram kopi panas
Manahan, Solo. 15
Desember 2016
No comments:
Post a Comment